Rabu, 20 Juli 2016

اللهم جعلني في اهل القر ان

Suatu Saat..
Entah kapan ' suatu saat ' itu tiba..
Izinkan hamba menjadi Ahlul Qur'an Mu Rabb..

Ingin rasanya diri ini mengabdikan diri sebagai ' Pengajar Qur'an ' seperti mereka yang lebih dulu engkau berikan nikmat kesempatan seperti itu..

Tak jarang..
Pikiran" negatif pun silih berganti dan menyalahkan diri sendiri..
' mungkin diri ini belumlah pantas, ya..
Belum pantas untuk mengajarkan kalam Allah '
Ya Allah..😭
' Mungkin diri ini masih sangat sering melakukan maksiat,, sehingga hamba belum mampu untuk menjadi salah satu abdi qur'an Mu.. '😭😭

Suatu saat,,
Entah kapan tibanya suatu saat itu..
Izinkan hamba menjadi istri dari seseorang yang dekat dengan Al Qur'an..
Yang hamba sangat berharap, dia mampu untuk terus mendorong hamba untuk menyelesaikan perjuangan ini..
Ya,, perjuangan untuk menjadi salah satu hafidzah Mu ya Rabb,,
Suatu saat,,
Hamba tak lagi ingin bekerja hanya untuk mengejar dunia..

Senin, 18 April 2016

JANGAN BERHENTI MEMILIKI CITA CITA

Jangan pernah kehilangan cita-cita Menjadi Ahlul Quran

Kita semua pernah punya mimpi.

Punya cita-cita.

Menjadi penghafal Qur'an.

Menjadi penjaga Al-Qur'an.

Menjadi Ahlul Qur'an.

Datang dengan agak malu-malu ke halaqoh karena ingin bisa. Tapi sungkan juga karena merasa belum bisa.

Ingin kayak mereka, menjadi hafizh Qur'an.

Lalu datang tiap pekan.

Membaca Al-Qur'an menjadi nikmat. Hati menjadi lapang. Dan mimpi pun mulai terjalin. Janji mulai tercipta...

Ingin menjadi penghafal Al-Qur'an. Ingin menjadi ahlul Qur'an.

Lalu waktu terus berjalan. Belajar menjadi keharusan. Jadwal rutin ditetapkan. Baca Al-Qur'an dirutinkan.

Meski kemudian mulai berlomba dengan kesibukan...

Kalau tidak bertahan, mimpi akan terkikis pelan-pelan. Lalu lama-lama pudar. Akhirnya menyerah oleh keadaan.

"Saya nggak bisa."

"Saya nggak bakat."

"Saya malu mau bergabung lagi..."

***

Duhai jiwa... Jangan kalah oleh semangat setan. Mereka membangun mimpi mereka di atas dendam dan kebencian. Tapi ribuan tahun mereka tetap bertahan...

Sementara kita membangun mimpi ini di atas pondasi cinta.

Cinta kepada Allah...
Cinta Rasululah...

Maka buktikanlah bahwa ia lebih kuat dan lebih kokoh...

Target akhirnya adalah surga. Perjalanannya adalah sepanjang usia. Tidak masalah belajarnya di sini atau di sana. Yang penting esensinya sama.

Yang harus kita sesali adalah ketika kita berhenti. Padahal maut adalah pasti. Dan surgaNya adalah kerinduan sejati...

Menghafal Qur'an bukan sekedar status sosial atau kegiatan pengisi waktu senggang.

Menghafal Qur'an adalah pekerjaan seorang Nabi.

Juga tugasnya Malaikat Jibril.

Menghafal Qur'an adalah tentang menjaga kalamullah. Ketika banyak orang meninggalkannya...

Menghafal Qur'an adalah meniti anak tangga setingkat demi setingkat, menuju tingkatan surga yang tertinggi. Di mana di ujungnya kita akan berkumpul bersama Rasulullah dan semua makhluk yang mulia.

Juga bertemu Dzat yang menciptakan langit bumi dan semua yang ada di antara keduanya...

Adakah pertemuan yang lebih indah selain pertemuan dengan Allah di surga tertinggi sembari membawa kalamNya di lisan dan hati kita?

***

Kelelahan adalah hal wajar dalam perjalanan. Istirahat sejenak. Lalu lanjutkan langkah.

Jangan berhenti, atau kita tidak akan sampai ke tempat tujuan...

Jangan pernah kehilangan cita-cita...

Atau hidup hanya sekadar menunggu mati...

Tetaplah semangat...
Dan senantiasa berdoa...
Semoga Allah meridhai kehidupan kita...

Sabtu, 12 Maret 2016

Tarbiyah Diri

Sabtu, 12 Maret 2016
Kajian Komunitas Tahfidz Griya Qur'an

Suatu kemulyaan dan kebahagiaan yang (khususnya) bagi hamba rasakan berada dalam majelis ini..

Hari ini,, pada yang sama saya menyadari bahwa keberadaan saya sudah tak dianggap oleh sahabat yang ah,,,
(Cukup tersimpan dalam hati saja)😊☺
Sekali lagi saya telah meragukanMu ya Allah, padahal engkau justru mentarbiyah hamba di tempat suci ini..
Sungguh, jika bukan Kemurahan dan FadhillahMu hamba tak akan pernah sampai pada 'maqom' ini..
Di saat hamba merasa minder karena sampai saat ini engkau tak kunjung mempertemukan hamba dengan 'tulang rusuk' hamba..
Justru pada saat yang sama pula engkau memberikan ilmu dan pengalaman baru tentang pra nikah dan kehamilan agar dapat mencetak generasi Qur'ani..
Subhanallah..
Mungkin engkau ingin hamba mengetahui ilmu ini terlebih dahulu sebelum engkau mempertemukan dengan 'tulang rusuk' hamba..😳😳
Masih teringat jelas ketika sang guru menjelaskan ttg kisah seorang balita usia 5th yang justru telah mampu menghafal 20juz..
Sedangkan kami..??
Subhanallah..
Apa gerangan yang dilakukan orang tuanya sehingga bisa melahirkan generasi Qur'ani..
Seorang alim ulama' kah orang tuanya...??Bukan..
Seorang hafidz hafidzah kah..? Ternyata juga bukan..
Lalu apa yang telah dilakukan orang tuanya..?
Subhanallah,, pasangan pasutri ini telah membuat janji untuk terus istiqomah membaca al Qur'an..
Tak tanggung tanggung,, Khatam 30juz dalam 1 Minggu..!!
Disertai keistiqomahan sang ibu ketika hamil untuk terus membacakan surat pendek yang seakan akan telah menjadi wiridan nya..
...

Yahh,,
Mungkin ilmu ini ya Allah yang engkau ingin tunjukkan terhadap hamba sebelum pada akhirnya engkau mempertemukan hamba dengannya..
Dengan dia yang mampu sevisi dan semisi dengam hamba..
Dengan dia yang mampu memimpin hamba dengan Al Qur'an..
Amiinn ya robbal 'alamin..

****
Di akhir cerita ustadz,, engkau mengatkan bahwa " kepandaian bukanlah faktor utama mencapai derajat Hafidzul Qur'an..
Banyak sekali orang pinter di negara ini namun hatinya tak tersentuh dengan Al Qur'an..
Jika bukan karena rahmat dan fadhilah Allah..
Kita tak akan pernah sampai pada proses sekarang ini..

" Jangan pernah berhenti menghafal, hingga Allah menghilangkan beban dalam menghafal ayatNya "

---

- Ila -

Rabu, 12 Agustus 2015

Belajar Husnudzon

Bismillahirrohmanirrohim..

Sebetulnya sudah lama ingin menulis tentang keterlambatan "open mind" yang saya alami..

Masih teringat jelas perkataan dan komentar yang saya ucapkan betapa kecewanya sesaat setelah saya tahu bahwa mentor tahfidz saya adalah seorang ustadz bukan ustadzah..
mungkin bagi orang lain hal ini sangat biasa dan wajar..
tapi bagi saya,, yang ada justru beban..
karena saya memang tidak percaya diri di hadapan lawan jenis..
Subhanallah..😞😔
sayapun mulai berandai-andai "ah,, jika saya dimentorin oleh seorang ustadzah mungkin saya lbh PD nih.." dan mulai menyalahkan keadaan..
Astaghfirullahal 'adzim..
Saya Lupa..
Saya Khilaf..
Saya telah su'udzon dengan sebaik-baik penulis skenario..

" Bisa jadi apa yang kamu benci justru itu lebih baik untukmu dan sebaliknya..?? Bukankah Allah lebih tau yang terbaik untuk kita daripada kita sendiri..?? (Juz 2.13)

Sayangnya,, kita terbiasa berfikir dan memahami setelah semua telah berubah..😳😢

Yapzz..
- Andai Allah tidak memberiku mentor tsb diawal-awal menghafal,, mungkin justru saya tidak bisa seperti saat ini karena dari ustadzku lah saya tau mentode hafalan "one page"

- Andai Allah tidak memberiku mentor ustadz tsb,,mungkin sampai saat ini saya tidak terbiasa dengan perbedaan ayat" yang mutasyabihat..

- Andai Allah tidak memberiku mentor ustadz tsb,, mungkin sampau saat ini saya tidak terbiasa dengan menghafalkan halamannya..

- Andai Allah tidak menghadirkan beliau,, mungkin sampai saat inu saya acuh dengan teman" karena merasa membutuhkan teman akhirnya saya selalu sebar absen pada teman"

-Andai Allah tidak menghadirkan beliau, mungkin saya tidak akan terbiasa dengan test sambung ayat..
karena saat ini setelah saya dimentorin oleh seorang ustadzah hal tsb sudah sangat jarang saya dapatkan..

Ya Allah..
Maafkanlah hamba yang selalu telat untuk mensyukuri nikmatMu..

Jazakallahu Khoiron Ustadz..
without you,, i can't be the same at the time..^_^
semoga Allah memberikan kedudukan terbaik untukmu kelak..
dan semoga Allah memberikan sosok sepertimu untuk menjadi pendamping hidupku meniti JannahNya..
Amin..

Jumat, 17 April 2015

There is no happends without Allah permissions

Bismillahirrohmanirrohim,

" andaikan mentorku adalah seorang akhwat (red.ustadzah), mungkin aku bisa lebih cuek dengan keadaan dan bersedia masuk walaupun hanya aku siswa yang masuk "

" nah ini mentorku ikhwan, mana berani aku ngaji sendiri"

**
Astaghfirullahal 'adzim

Ya,, masih terasa tertampar dengan mengingat apa yang dulu pernah aku sampaikan di depan teman-teman seperjuangan..
Kalimat yang hingga detik ini masih aku perjuangkan pembuktiannya😰😞

Allah mengujiku dengan  mengabulkannya harapanku..
Ya harapanku..
Harapan ketika dulu masih dimentorin oleh mentor ikhwan, aku sangat suka berbicara seolah-olah aku lebih tau apa yang terbaik buatku..
Aku lupa..
dengan ayat yang seharusnya sudah kuhafal (juz 2 hal 13 awal)
" boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik untukmu "
" dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu"
Aku lupa..
Bahwa selalu ada kebaikan yang tersirat dari kejadian yang telah tersurat..

Namun ternyata, ketika keadaan yang seharusnya berbalik bersahabat denganku justru membuktikan betapa rapuhnya aku tanpa mereka..
Saat ini, mentorku adalah seorang akhwat..
Dari kenyataan ini, bukankah seharusnya aku bisa lebih rajin? Bisa lebih istiqomah? Bisa lebih baik dan masih bisa lebih - lebih yang lain yang dulu tidak bisa karena alasan SUNGKAN DIMENTORIN IKHWAN..
Tapi kenapa tidak bisaa...??
Aku masih saja merasa uncomfortable tanpa kehadiran mereka..
Aku masih saja berharap mereka mau datang..
Aku masih saja berharap ada teman yang mau menemaniku..

Aku lupa siapa mereka..
Mereka yang tentunya memiliki target lain, alasan ,bahkan kewajiban lain yang tidak bisa kusamakan dengan diriku..
Lalu apa yang akan aku jawab jika esok Allah menanyakan hal ini padaku?? Aku akan jawab dengan bagaimana..?
Mana janji yang dulu, " aku akan bisa lebih baik jika dimentorin akhawat??

Sampai saat ini pun (sampai saat menulis tulisan ini) diri ini masih galau untuk berangkat, jika tanpa ada salah satu saja yang mau masuk mengaji..
Lalu, darimana bisa jadi lebih baik jika masih terus merasa seperti ini..
Astaghfirullahal 'adzim..😢😭😭

Ampuni hamba ya Allah yang telah khilaf merasa "BISA" ini..
Engkau lebih tau apa yang terbaik buat hamba - hambamu..
Ajarkanlah kepada hamba untuk memahami keputusanMu..
Apapun itu ,bukankah tidak akan terjadi sesuatu kecuali tanpa seizinMu ya Allah..
Amin..

2 rojab 1436 H

Jumat, 26 Desember 2014

Belajar Istiqomah dengan Al Qur'an

Bismillahirrohmanirrohim..

Sebenarnya artikel dibawah ini bukan asli karangan saya, saya mendapatkannya dari grup Whatsapp..
Namun karena saya tertarik dengan esensi "Tadabbur Qur'an" yang terkandung didalamnya yang insya Allah dapat kita jadikan renungan bersama minimal untuk catatan saya pribadi yang masih belajar untuk berjuang di jalan Qur'an ini..
Semoga Allah memberi kamudahan bagi kita ( umat muslim ) jalan hidayah untuk lebih mencintai Kalam-Nya..
Allahumma Amin..

***

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
 
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
 
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
 
 
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:
 
1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
 
2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
 
3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
 
4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
 
5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
 
6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
 
7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
 
8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
 
 
Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:
 
1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
 
2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
 
3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
 
4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
 
5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
 
6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna.
 
 
“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)
 

Jumat, 21 November 2014

" Jangan Harap Bertambahnya hafalan, tanpa adanya usaha menambah" ,, " jangan harap kekalnya hafalan, tanpa ada kekalnya muro'jaah "

" Jangan Harap Bertambahnya hafalan.."
"tanpa adanya usaha menambah.."
" jangan harap kekalnya hafalan.."
" tanpa ada kekalnya muro'jaah.."

Kalimat sederhana yang entah bagaimana aq mengapresiasi untuk si ustadz yang sudah berkali-kali mengucapkan pada kami.. Tapi yang jelas cukup "mak jleb" ketika mengingat beberapa waktu ini hafalanku ancur-ancuran..(o・_・)ノ”(ノ_<。)
Apalagi juz 2..
Masya Allah kudu nangis aja rasanya... *(╥﹏╥)
Konsentrasi menambah hafalan baru karena target di depan mata membuatku acuh dengan hafalan lama..
Alhasil ketika "perhiasan agama" ☻ mengujiku di juz sebelumnya hanya bisa kowa-kowo..
Masya Allah... *(╥﹏╥)
Perasaan kemaren lalu masih lancar,, kok sekarang bablas..
Kemana hafalanku yang ini..??
Kemana hafalanku yang itu..??

He said,, "mungkin hafalannya yang itu tertinggal di kantor mbak.."
Jlebbbbb,, ah saya masih terlalu naif di dunia tahfidz.. (berusaha untuk memaklumi diri sendiri) hehee
Tapi,, ingatkah engkau dengan teman-teman non sebayamu yang usianya jauuuhhh diatasmu,, bahkan seorang nenek-nenek yang notabene telah mengalami penurunan daya ingat dan kesempurnaan melafalkan ayat-ayat Allah..?
Tidak malu la'???
Mereka memiliki lebih banyak kendala darimu..
Namun toh mereka tidak menyerah..
**

Ah,, ini hanya sepenggal scene yang ingin kutuliskan biar esok kemudian saya bisa membaca track record (insya Allah..)
Hehehe lebay.. :D
Semoga Allah berikan kekuatan,, kesabaran dan kemudahan dalam menjalani setiap prosesnya dan bisa menjadi hujjah ketika esok yaumul hisab..^_^
Allahumma Amin..