Jumat, 26 Desember 2014

Belajar Istiqomah dengan Al Qur'an

Bismillahirrohmanirrohim..

Sebenarnya artikel dibawah ini bukan asli karangan saya, saya mendapatkannya dari grup Whatsapp..
Namun karena saya tertarik dengan esensi "Tadabbur Qur'an" yang terkandung didalamnya yang insya Allah dapat kita jadikan renungan bersama minimal untuk catatan saya pribadi yang masih belajar untuk berjuang di jalan Qur'an ini..
Semoga Allah memberi kamudahan bagi kita ( umat muslim ) jalan hidayah untuk lebih mencintai Kalam-Nya..
Allahumma Amin..

***

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
 
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
 
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
 
 
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:
 
1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
 
2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
 
3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
 
4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
 
5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
 
6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
 
7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
 
8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
 
 
Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:
 
1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
 
2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
 
3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
 
4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
 
5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
 
6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna.
 
 
“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)
 

Jumat, 21 November 2014

" Jangan Harap Bertambahnya hafalan, tanpa adanya usaha menambah" ,, " jangan harap kekalnya hafalan, tanpa ada kekalnya muro'jaah "

" Jangan Harap Bertambahnya hafalan.."
"tanpa adanya usaha menambah.."
" jangan harap kekalnya hafalan.."
" tanpa ada kekalnya muro'jaah.."

Kalimat sederhana yang entah bagaimana aq mengapresiasi untuk si ustadz yang sudah berkali-kali mengucapkan pada kami.. Tapi yang jelas cukup "mak jleb" ketika mengingat beberapa waktu ini hafalanku ancur-ancuran..(o・_・)ノ”(ノ_<。)
Apalagi juz 2..
Masya Allah kudu nangis aja rasanya... *(╥﹏╥)
Konsentrasi menambah hafalan baru karena target di depan mata membuatku acuh dengan hafalan lama..
Alhasil ketika "perhiasan agama" ☻ mengujiku di juz sebelumnya hanya bisa kowa-kowo..
Masya Allah... *(╥﹏╥)
Perasaan kemaren lalu masih lancar,, kok sekarang bablas..
Kemana hafalanku yang ini..??
Kemana hafalanku yang itu..??

He said,, "mungkin hafalannya yang itu tertinggal di kantor mbak.."
Jlebbbbb,, ah saya masih terlalu naif di dunia tahfidz.. (berusaha untuk memaklumi diri sendiri) hehee
Tapi,, ingatkah engkau dengan teman-teman non sebayamu yang usianya jauuuhhh diatasmu,, bahkan seorang nenek-nenek yang notabene telah mengalami penurunan daya ingat dan kesempurnaan melafalkan ayat-ayat Allah..?
Tidak malu la'???
Mereka memiliki lebih banyak kendala darimu..
Namun toh mereka tidak menyerah..
**

Ah,, ini hanya sepenggal scene yang ingin kutuliskan biar esok kemudian saya bisa membaca track record (insya Allah..)
Hehehe lebay.. :D
Semoga Allah berikan kekuatan,, kesabaran dan kemudahan dalam menjalani setiap prosesnya dan bisa menjadi hujjah ketika esok yaumul hisab..^_^
Allahumma Amin..

Kamis, 09 Oktober 2014

Semangat dalam keterbatasan

Bismillahirrohmanirrohim...

Sebenarnya ini adalah tulisan dari my really inspiring person, beliau yang telaten menularkan ilmunya selama saya menjadi santrinya..
Dan Masya Allah, saya baru tahu tentang profil beliau setelah beliau sudah tak lagi mengajar kami..
beliau yang saat ini telah lulus s2 teknik kimia akan melanjutkan study ke skotlandia untuk mengejar gelar Doktornya..
Namun bukan hanya itu yang mampu membuatku berdecap kagum terhadapnya, ada hal lain yang membuatku merasa ciut jika mau dibandingkan denganku..
Ternyata beliau mengejar hafalan full 30 juzz sampai akhir tahun..
"became a doctor who can memorize all of qur'an is her big dream.."
Masya Allah... T_T
Terlambat mengenal,, ?? Ya tentu saja..
dan pasti ada perasaan menyesal dalam hati..

 **
Setelah kepoin dan stalking di FB beliau ada tulisan yang sangat pantas dijadikan "cermin" buat saya bahkan anda sekalian..
hehehe
Monggo dibaca..

**
Apapunkondisinya hafalan harus tetap terjaga!. Mungkin kalimat tersebut aalah yangpaling tepat untuk menggambarkan tekad seorang mahasiswa bernama RamadhanuAdjie. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa di Institut Teknologi SepuluhNopember Surabaya ini kini hafalannya telah sampai di juz ke-11. Kuliah jurusanTeknik Elektro dan berada di tingkat akhir namun bisa mencapai sepertiga AlQuran tentunya cukup membuat kita berdecak kagum.

Kita akan lebih tercengang dan malu pada diri sendiri jika membicarakan lebih jauh  sosok Ramadhanu Adjie. Anak kedua dari tigabersaudara ini menderita tumor otak, namun alasan kesehatan tak pernah mampir di benaknya. “Ya mengahafal sebisanya, memang beginilah kondisinya”. Begitulah  jawabnya merendah jika ditanya tentang sakitnya. “Alhamdulillah kalau dibuat menghafal tidak sakit”. Bahkan Adjie pernah cuti kuliah satu tahun karenapenyakitnya ini.

Adjie mulai menghafal Al quran dirumah, bukan dilembaga atau pondok pesantren. Bermula dari mengaji dengan memanggil guru ke rumah semasa SMP. Setelah beberapa waktu sangguru meminta Adjie menghafal juz 1, ternyata Adjie bisa melakukannya sampaisekitar 7 halaman. Kemudian berlanjut terus sampai kemudian Adjie meneruskansetoran hafalannya di Griya Al Quran hingga kini.

Tidak seperti yang lain, Adjie mempunyai kesulitan tersendiri untuk mengahal dan murojaah.Adjie menghafal Quran tiap hari, saat subuh dan petang. Untuk murojaah, Adjie menggunakan sistem mendengar. Setiap hari Adjie mendengar murrotal via MP3 dan menirukannya. Murojaah atau mengulang hafalan tiap hari hanya bisa sekitar dua halaman saja, namun sungguh luar biasa karena hafalannya kuat sekali. Initerbukti ketika Adjie menjadi peserta wisuda terbaik pada Wisuda Griya al quran2013 dengan kategori juz 1-5.

Jalani saja apa adanya, itulah kiatnya. Ditengah keterbatasn dan kesibukan Adjie selalu terlihat santai tanpa beban. Dengan prinsip seadanya dengan hasil luar biasa itu Adjie menjalankan amanah-amanahnya, sebagai mahasiswa dan penghafal AlQuran. Selain itu, prisnsip yang ditanamkan sang Ibu untuk bermanfaat bagiummat juga turut serta membentuk karakternya. Dan kini Adjie mengemban amanahmenjadi Imam Masjid di tiga tempat yang berbeda. Sehingga di tengahketerbatasan kondisi, Adjie tetap berkontribusi.

Sekarang marilah  kita  mulai bertanya pada diri kita , dengan segala kelonggaran yang Allah anugerahkan, apa saja yang sudah kita kontribusikan?!.